Royal Golden Eagle Mendorong Suplai Bahan Baku Kertas Dari Perkebunan Sendiri


Royal Golden Eagle
Keywords: Royal Golden Eagle, RGE, Raja Garuda Mas

Description: Bahan Baku Kertas 1.jpg
Source: Kontan

Selembar kertas terlihat sepele. Namun di baliknya banyak upaya yang mesti dilakukan untuk membuatnya. Salah satunya memastikan bahan baku pembuatannya selalu ada. Sebagai salah satu produsen kertas ternama, APRIL Group melalui unit bisnisnya PT Riau Andalan Pulp & Paper sudah mempunyai solusi.  Anak perusahaan Royal GoldenEagle (RGE) ini berusaha memasok dari hutan tanaman industri yang dikelolanya.

APRIL Group merupakan bagian dari korporasi RGE yang berkecimpung dalam industri pulp and paper. Unit bisnis mereka, PT RAPP memiliki basis di Pangkalan Kerinci. Di sana mereka mempunyai kompleks produksi  yang lengkap mulai dari pabrik hingga hutan tanaman industri.
Untuk membuat kertas diperlukan bahan baku dari kayu. Kayu kemudian diproses sedemikian rupa untuk menjadi pulp. Sesudahnya pulp dapat dipakai sebagai bahan baku beragam produk lain termasuk kertas.

Selama ini suplai bahan baku menjadi isu besar dalam industri pulp and paper. Pasalnya, banyak yang mengambil kayu dari mana saja tanpa peduli dengan kelestarian lingkungan. Namun, APRIL Group tidak seperti itu. Sejalan misi grup induknya, Royal Golden Eagle, untuk menjaga keseimbangan iklim, mereka memastikan kayu diperoleh secara bertanggung jawab.

Sejak 2014, APRIL Group sudah memastikan menghentikan suplai kayu hasil deforestasi. Mereka juga tidak menerima kayu dari hasil pembukaan lahan dengan pembakaran dan pembalakan liar. Sebagai ganti, APRIL Group mulai mencukupi kebutuhan bahan baku produksinya dari hutan tanaman industri yang dikelolanya.

Unit bisnis bagian dari grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini rupanya belajar dari pengalaman pahit pada sekitar 2007. Saat itu, suplai bahan baku untuk industri pulp and paper mengalami kelangkaan. Akibatnya proses produksi tersendat.

Seperti dilaporkan oleh Gatra, produksi PT RAPP saat itu hanya sepertiga dari kapasitas normal. Kondisi ini membuat anak perusahaan RGE ini memikirkan dengan serius untuk mampu menyuplai bahan baku sendiri tanpa mengandalkan pihak lain. Ini pula yang mendasari proses pembuatan hutan tanaman industri dengan konsep terbarukan.

Sejatinya hutan tanaman industri sudah dirinitis oleh APRIL Group pada 1993. Namun, proses pembuatannya yang mencakup generasi ketiga dan keempat baru rampung pada 2014.

Di dalam hutan tanaman industri ditanam pohon yang dapat diambil kayunya. APRIL Group akhirnya menjatuhkan pilihan untuk menanam pohon akasia. Pohon akasia dipilih karena memiliki beberapa keuntungan besar. Selain seratnya bagus untuk pembuatan pulp and paper, akasia mampu tumbuh dengan cepat di kawasan tropis.

Jika ditanam daerah hangat, pohon akasia sudah bisa dipanen dalam jangka waktu lima hingga enam tahun. Kurun waktu ini begitu cepat jika dibanding dengan lama pertumbuhan di daerah dengan iklim empat musim. Di sana butuh waktu hingga 25 tahun untuk bisa dipanen.

MEMAKSIMALKAN AREA KONSESI
Description: Bahan Baku Kertas 2.jpg
Source: Hallo Riau

APRIL Group merupakan salah satu pihak yang memperoleh konsesi pemanfaatan hutan. Secara total, luas area konsesi milik anak perusahaan RGE ini mencapai satu juta hektare.

Sejatinya luas itu terbilang kecil jika dibanding dengan luas hutan yang dipersilakan oleh pemerintah Indonesia untuk dijadikan sebagai kawasan produksi. Luasnya mencapai 78 juta hektare, sehingga area konsesi APRIL Group hanya sekitar 1,3% dari total area hutan produksi di negeri kita.

Dari area konsesi seluas satu juta hektare, APRIL Group tidak memanfaatkan semuanya menjadi hutan tanaman industri. Mereka justru cuma memakai  480 ribu hektare yang dimanfaatkan oleh APRIL untuk hutan tanaman produksi. Sisanya digunakan oleh anak perusahaan Royal Golden Eagle ini sebagai kawasan konservasi maupun diserahkan kepada masyarakat untuk dimanfaatkan.

Namun, APRIL Group hendak memanfaatkan area hutan tanaman industri untuk menyuplai bahan baku dengan maksimal. Caranya ialah dengan mengelolanya secara profesional dengan pendekatan berkelanjutan.

PT RAPP misalnya. Untuk memastikan suplai bahan baku terus terjaga, mereka menanam banyak sekali pohon di hutan tanaman industrinya. Dilaporkan oleh Jakarta Post, unit bisnis APRIL Group ini menanam sekitar 500 ribu pohon per hari.

Untuk memenuhi target menanam 500 ribu pohon per hari diperlukan nursery yang produktif. Oleh sebab itu, PT RAPP membangun sejumlah nursery di sekitar kawasan hutan tanaman industrinya. Tercatat mereka memiliki nursery di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, dan Baserah. Tiga nursery itu masih ditambah di beberapa daerah lain yang lebih kecil.

Akibatnya, seperti dilaporkan oleh Jakarta Post, nursery PT RAPP memiliki kapasitas produksi yang besar mencapai 200 juta bibit per tahun. Dari seluruh bibit yang dihasilkan, 160 juta di antaranya yang dipakai untuk produksi. Sebanyak 40 juta bibit lainnya digunakan untuk keperluan restorasi ekosistem.

Selain itu, Asian Agri juga memaksimalkan teknologi agar hasil produksi di hutan tanaman industrinya maksimal. Dalam hal ini peran departemen Research and Development mereka sangat krusial. Setiap saat mereka selalu mencari cara agar hasil perkebunan akasia semakin bertambah per tahun.

Namun, kerja keras tim R&D APRIL Group mulai terbayar. Produksi kayu dari hutan tanaman industrinya selalu meningkat. Pada 1996, satu hektare hutan tanaman industri hanya menghasilkan 22 meter kubik kayu. Namun, per 2010, jumlah telah melonjak hingga mencapai 32 meter kubik per hektare.

Meski begitu, anak perusahaan Royal Golden Eagle itu masih ingin meraih hasil yang lebih baik. Mereka menargetkan  hutan tanaman industri mampu menghasilkan 35 meter kubik kayu per hektare pada 2020 nanti.











SUPLAI DARI PEMASOK
Description: Bahan Baku Kertas 3.jpg
Source: Riau Online

Dari proses yang dilakukan selama ini, PT RAPP dilaporkan oleh Jakarta Post mampu menghasilkan 2,8 juta ton pulp per tahun. Selain itu, unit bisnis APRIL Group ini juga sanggup memproduksi 820 ribu ton kertas setiap tahun.

Namun, saat ini, PT RAPP bakal meningkatkan kapasitas produksinya. Hal itu sejalan dengan investasi yang dikeluarkan perusahaan berupa pembelian mesin dan teknologi baru. Rencananya itu bakal mendongkrak produksi kertas mencapai 1,15 juta ton per tahun.

Terkait hal tersebut, suplai bahan baku menjadi masalah serius. Selama ini, unit bisnis bagian dari RGE itu memang sudah menargetkan hendak menyuplai semua kebutuhan bahan baku dari hutan tanaman industrinya sendiri.  Tekad itu dipaparkan oleh RAPP seperti dikutip The Jakarta Post.
Mereka menyatakan PT RAPP memastikan mampu menyuplai bahan baku secara mandiri pada 2019 nanti. Tentu saja semua akan berasal dari hutan tanaman industri yang dimilikinya.

Selama ini, PT RAPP masih menggunakan pemasok dari luar sebelum hutan tanaman produksi mampu menghasilkan sesuai kebutuhan. Namun, ada aturan ketat yang dibuat oleh unit bisnis APRIL Group ini. Sejalan dengan prinsip kerja Royal Golden Eagle yang ingin aktif menjaga keseimbangan iklim, mereka mewajibkan mitra pemasok memperoleh bahan baku dengan memerhatikan praktik berkelanjutan.

Jika tidak bisa, PT RAPP tak segan mengambil tindakan tegas. "Kami akan mengambil tindakan dengan cara mengakhiri hubungan bisnis dengan mereka,” ujar Tony kepada Kontan.

Dengan cara inilah PT RAPP memperoleh bahan baku untuk memenuhi kebutuhan produksi. Namun, lambat lain unit bisnis bagian dari grup yang bernama awal Raja Garuda Mas ini akan memperoleh semuanya dari hutan tanaman industri yang sudah dibuat.
           

             
           
           


0 Response to " Royal Golden Eagle Mendorong Suplai Bahan Baku Kertas Dari Perkebunan Sendiri"

Posting Komentar