Pabrik Unit Bisnis Bagian RGE Menerima Proper Hijau Dari Menteri LHK




Pabrik Unit Bisnis Bagian RGE Menerima Proper Hijau Dari Menteri LHK

Source: Sawit Indonesia

Royal Golden Eagle (RGE) selalu menjadikan kepedulian lingkungan sebagai prinsip operasionalnya. Hal itu dijalankan secara nyata sehari-hari. Akibatnya banyak penghargaan terkait kelestarian alam yang mereka terima.

RGE berdiri dengan nama Raja Garuda Mas pada 1973. Pendirinya adalah pengusaha Sukanto Tanoto yang berhasil membesarkannya dari nol. Dulu, ketika pertama kali beroperasi, Royal Golden Eagle menggeluti industri kelapa sawit. Karyawannya kala itu baru ribuan.

Namun, sekarang, kondisinya berbeda jauh. RGE bukan lagi perusahaan skala lokal. Sejak hadir dengan nama Royal Golden Eagle, mereka telah berkembang menjadi korporasi global dengan aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan sebanyak 60 ribu orang.

Saat ini, Royal Golden Eagle memiliki anak-anak perusahaan yang bergerak dalam industri beragam. Unit bisnisnya ada yang beroperasi di sektor pengembangan energi, selulosa spesial, serat viscose, kelapa sawit, serta pulp dan kertas.

Semuanya memiliki ciri khas yang sama. Anak-anak perusahaan RGE mengedepankan kelestarian lingkungan dalam operasional kesehariannya. Hal ini dibuktikan oleh Asian Agri, unit bisnis bagian Royal Golden Eagle yang bergerak dalam industri kelapa sawit.

Pada Desember 2017, Asian Agri mendapat penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia. Hal itu dikarenakan dua pabriknya, yakni Pabrik Muara Bulian dan Pabrik Taman Raja mampu menjalankan operasional yang berkelanjutan.

Secara khusus, penghargaan yang diperoleh berupa Proper Hijau. Ini merupakan program tahunan unggulan Kementerian LHK yang meliputi proses pengawasan dan pemberian insentif atau disinsentif kepada perusahaan yang taat atau tidak taat terhadap peraturan lingkungan hidup.

Penghargaan Proper diberikan kepada perusahaan yang telah mampu menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam produksi barang dan jasa. Perusahaan itu juga wajib menerapkan sistem manajemen lingkungan, efisiensi energi, konservasi sumber daya dan pelaksanaan bisnis yang beretika serta bertanggung jawab.

Dua pabrik Asian Agri, Pabrik Muara Bulian dan Pabrik Taman Raja, dinilai sudah menjalankan beragam kriteria tersebut dengan baik. Akibatnya, mereka dirasa pantas memperoleh Proper Hijau.

Penghargaan diberikan secara langsung oleh Menteri LHK RI, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc di Kantor Wakil Presiden RI. Manajer Pabrik Muara Bulian, Sukirman dan Perwakilan Manajemen Taman Raja, Amy Supriono, menjadi wakil dari Asian Agri yang menerimanya.

“Apresiasi yang diberikan Kementerian LHK dalam hal penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan di semua lini kegiatan perusahaan akan memotivasi kami untuk terus melaksanakan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan,” kata Bernard A. Riedo, Head of Sustainability & Stakeholder Relations Asian Agri seperti dilaporkan oleh Sawit Indonesia.

“Pabrik Muara Bulian berhasil meraih Proper kategori Hijau selama dua tahun berturut-turut. Kami berupaya mendorong pabrik-pabrik Asian Agri lainnya untuk meraih penghargaan yang sama dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, lingkungan, pemerintah, pelanggan dan perusahaan,” kata Bernard.

Keberlanjutan memang sudah menjadi bagian dalam operasi keseharian Asian Agri. Unit bisnis bagian dari RGE ini teguh menjaga filosofi bisnis grup yang mewajibkan untuk ikut aktif menjaga keseimbangan iklim. Beroperasi dengan penuh tanggung jawab kepada alam merupakan wujud nyatanya.

OPERASIONAL PERUSAHAAN YANG BERTANGGUNG JAWAB


Source: Inside RGE

Asian Agri kini dikenal sebagai salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di Asia. Per tahun, unit bisnis bagian grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini sanggup memproduksi 1 juta ton minyak kelapa sawit.

Untuk mendapatkan bahan baku, Asian Agri mengelola perkebunan sendiri. Pengelolaannya dilakukan dengan prinsip-prinsip berkelanjutan. Saat ini ada 160 ribu hektare lahan kebun kelapa sawit Asian Agri. Dari jumlah itu, 60 ribu di antaranya dikelola oleh para petani plasma. Selain itu, jika ditotal, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini telah menjalin kerja sama dengan sekitar 30 ribu petani.

Keberlanjutan di tubuh Asian Agri dibuktikan lewat beragam hal. Salah satunya dari fakta-fakta yang tercantum dalam Laporan Keberlanjutan 2016. Dirilis pada Desember 2016, di sana terpapar sejumlah aksi nyata unit bisnis bagian RGE ini dalam merawat alam sepanjang 2015 hingga 2016.

Salah satunya terkait pengelolaan perkebunan dan pemenuhan bahan baku produksi. Unit bisnis bagian dari grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini menunjukkan bukti lahan yang memperoleh sertifikat keberlanjutan. Sebagai contoh, saat ini 86% dari perkebunan dan pabriknya sudah mendapat sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil, 91% Indonesia Sustainable Palm Oil, dan 100% International Sustainability and Carbon Certification.

Bukan hanya itu, Asian Agri meningkatkan penelusuran sumber bahan baku. Sebagai bukti, pada 2015 penelusuran suplai baru mencapai 76 persen. Namun, jumlah itu meningkat hingga menjadi lebih dari 98 persen pada 2016.

Upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan ikut menjadi perhatian penting Asian Agri. Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini menjalankan sejumlah usaha untuk melawan kebakaran mulai dari pencanangan Program Desa Bebas Api serta aktivitas bersama Aliansi Bebas Api.

Program Desa Bebas Api mampu menurunkan tingkat kebakaran secara signifikan. Sebelumnya Asian Agri bekerja sama dengan sembilan desa di Provinsi Riau dan Jambi. Hasilnya adalah penurunan lahan yang terbakar hingga 50 persen selama 2016.

Penggunaan energi ramah lingkungan juga ditunjukkan oleh Asian Agri sebagai bukti kepedulian terhadap alam. Mereka menunjukkan kemampuannya dalam mengolah limbah cair kelapa sawit menjadi sumber energi listrik biogas.

Berkat terobosan ini, ada dua hal penting yang diraih oleh Asian Agri terkait perlindungan terhadap alam. Mereka mampu memanfaatkan limbah agar tidak dibuang dan merusak alam. Selain itu, Asian Agri juga sanggup menekan penggunaan energi fosil dengan pemanfaatan biogas.

Hingga 2018, Asian Agri telah membangun tujuh pembangkit tenaga listrik biogas. Dengan itu, mereka bisa menghasilkan listrik hingga 2,2 MW yang digunakan untuk operasional perusahaan. Lewat langkah itu pula anak perusahaan Royal Golden Eagle ini sanggup membantu masyarakat dengan menyalurkan sisa energi listriknya.

“Dengan terus meningkatkan hubungan dengan stakeholder, memperkuat kerja sama, berinvenstasi dalam riset dan pengembangan, serta berkontribusi positif terhadap masyarakat di sekitar area operasi kami, kami sadar bahwa perjalanan kami menuju keberlanjutan dan penelusuran secara penuh akan segera menjadi kenyataan,” ujar Managing Director Asian Agri Kelvin Tio.

Sejumlah langkah itu akhirnya memang mendukung kinerja segenap pihak di Asian Agri agar tetap berpegang koridor keberlanjutan. Tidak mengherankan pabriknya mampu meraih penghargaan Proper kategori Hijau dari Kementerian LHK. Seperti perusahaan bagian Royal Golden Eagle lain, mereka memang bertanggung jawab terhadap alam.


0 Response to "Pabrik Unit Bisnis Bagian RGE Menerima Proper Hijau Dari Menteri LHK"

Posting Komentar