Pendekatan Bentang Alam Dilakukan APRIL Pulp Untuk Melindungi Hutan Gambut



APRIL Pulp menaruh perhatian besar terhadap kelestarian hutan di lahan gambut. Beragam upaya perlindungan pun mereka lakukan. Salah satunya ialah dengan menerapkan pendekatan bentang alam dalam area konsesinya.
            Lahan gambut merupakan kawasan yang unik. Area ini bisa menjaga keseimbangan iklim dengan menyerap karbon jika dirawat dengan baik. Namun, beda halnya kalau tidak dijaga. Gambut bisa melepaskan karbon yang memicu efek rumah kaca ke udara.
            Kalau itu terjadi, dampak nyata sangat terlihat. Beragam bencana seperti banjir, kebakaran, atau kekeringan mudah timbul karena kerusakan hutan khususnya yang ada di lahan gambut.
            Sebagai perusahaan peduli lingkungan, APRIL Indonesia sangat menaruh perhatian terhadap kelestarian lahan gambut. Sebab, mereka berada langsung di kawasan gambut yang memiliki karakteristik unik.
            Berdiri pada 1993 dengan basis utama di Pangkalan Kerinci, APRIL Asia merupakan salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Kapasitas produksi pulp mereka per tahun mencapai 2,8 juta ton. Sedangkan untuk kertas, APRIL sanggup menghasilkan 850 ribu ton pulp setiap satu tahun.
            Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, APRIL Pulp mengelola perkebunan sendiri. Bersama dengan 40 mitra pemasok jangka panjang, mereka memelihara kebun pohon akasia seluas 476 ribu hektare.
            Perkebunan itu ada di area konsesi APRIL Indonesia yang seluas satu juta hektare. Namun, tidak semua lahan digunakan untuk hutan tanaman industri. APRIL juga menyediakan area untuk konservasi maupun keperluan publik.
            Di dalam area konsesi APRIL  Pulp terdapat lahan gambut. Area ini rentan terhadap kerusakan jika mismanajemen. Namun, dengan jitu, APRIL berhasil menjaganya berkat pendekatan bentang alam yang dijadikan basis pengelolaan.
            Belakangan pendekatan bentang alam memang dinilai sebagai solusi tepat dalam pengelolaan sumber daya hutan dan lahan gambut. Pendekatan bentang alam dianggap menawarkan hal lebih menyeluruh dan mampu mencari penyelesaian untuk akar permasalahan dari kerusakan hutan.
Sesungguhnya pendekatan bentang alam bukan hal baru. Pengembangannya telah dilakukan sejak mulai tumbuh kesadaran bahwa penanganan masalah lingkungan tidak bisa menggunakan batas wilayah artifisial, tetapi harus menggunakan batas-batas ekologis. Sebagai contoh tentang batas daerah aliran sungai. Batas ekologis inilah yang mendefinisikan bentang alamnya.
Berdasar pemaparan itu, pendekatan bentang alam dapat dimaknai sebagai pengelolaan lingkungan berdasarkan batas-batas naturalnya. Namun, sejalan dengan waktu, batas-batas ekologis dianggap belum cukup. Untuk mendefinisikan sebuah batasan, aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya akhirnya juga diperhatikan.
Melihat beragam keunggulan yang dimiliki pendekatan bentang alam, APRIL Pulp memilihnya sebagai metode pengelolaan lahan gambut di area konsesinya. Dalam pelaksanaan, APRIL melakukannya lewat tiga langkah utama.
Apa saja itu? Berikut ini pemaparannya.

Kajian Nilai Konservasi Tinggi
            APRIL Asia memperoleh izin untuk memanfaatkan sebuah kawasan sebagai lahan produktif. Sebagai penerima izin, mereka memiliki tanggung jawab untuk menjamin bahwa operasionalnya mampu menyeimbangkan kewajiban terhadap masyarakat dan pembangunan dengan perlindungan lingkungan.
            Untuk melakukannya, pendekatan bentang alam dijalankan di dalam area konsesi APRIL Indonesia. Langkah pertama untuk menjalankannya ialah dengan mengidentifikasi area yang masih alami serta yang terdegradasi.
            APRIL kemudian melakukan kajian Nilai Konservasi Tinggi. atau High Conservation Value (HCV). Mereka melaksanakannya di tingkat lanskap, unit manajemen, maupun pendekatan konsultasi publik dan ilmu pengetahuan yang ada.
Kajian ini berguna untuk mengidentifikasi area konservasi dan perkebunan yang sesuai sebagai bagian dari pendekatan holistik untuk perencanaan lanskap. Alat perencanaan lanskap meliputi survei dan pemetaan yang rinci, kajian hidrologi dan kajian pengelolaan ancaman kebakaran.
            Sesudah kajian dilakukan, area konservasi diidentifikasi. Hutan tanaman yang dikelola secara profesional kemudian digunakan sebagai zona penahan yang membentuk cincin pelindung di sekeliling kawasan konservasi. Ini berguna untuk menjaga perambahan dan degradasi oleh kegiatan penebangan dan pembakaran. Cara ini terbukti efektif untuk mengonservasi kubah hutan rawa gambut dan koridor tepian sungai dari perambahan pertanian, dehidrasi dan kebakaran.

Pengelolaan Air Secara Terus-Menerus

            Area gambut memiliki karakter yang khas. Agar kelestariannya terjaga, keberadaan air diperlukan. Jika tidak, lahan bisa kering yang memicu potensi kebakaran hutan.
            Namun, air yang terlalu banyak juga merugikan. Bahaya banjir bisa muncul sehingga merusak lahan termasuk hutan tanaman yang dimiliki oleh APRIL Pulp.
            Atas dasar ini, APRIL Indonesia melakukan pengelolaan air secara terus-menerus di area gambut. Mereka sadar bahwa kondisi alam di kawasan konsesinya memang unik.
            Perlu diketahui, curah hujan di Riau bervariasi. Pada musim penghujan ringan, curah hujan baru mencapai 50 mm per bulan. Namun, pada puncak musim penghujan, jumlahnya bisa meningkat menjadi 500 mm per bulan.
            Oleh sebab itu, pengelolaan air di kawasan hutan tanaman amat diperlukan. APRIL Asia membangun bendungan air dan kanal di sana sebagai pegendali air.
            Sebagai acuan, level air di hutan tanaman dipertahankan oleh APRIL pada kedalaman antara 40-90 cm. Hal ini untuk memastikan pertumbuhan optimal dan pengurangan emisi karbon dibandingkan dengan lahan-lahan yang tidak dikelola dengan prinsip berkelanjutan di sekitarnya.
            Pengelolaan dilakukan hanya di kawasan hutan tanaman. Namun, area hutan konservasi dibiarkan tidak tersentuh. Sebab, lahan tersebut sudah terlindungi oleh hutan tanaman yang mengelilingi. Hal ini pun sejalan dengan metode pendekatan bentang alam yang dilaksanakan.

Mengurangi Risiko Kebakaran

            Lahan gambut sejatinya merupakan kawasan penyimpan karbon yang efektif. Hal itu membuat gambut bisa membantu mempertahankan keseimbangan iklim di bumi.
            Akan tetapi, lahan gambut juga menyimpan risiko besar. Mereka bisa menjadi area pelepas karbon dioksida yang besar jika terbakar. Kalau itu terjadi, lahan gambut berubah fungsi dari penjaga keseimbangan iklim menjadi pemicu efek rumah kaca yang merusak.
            Oleh sebab itu, keberadaan api sangat dijaga di kawasan gambut. Inilah yang membuat APRIL Indonesia benar-benar berupaya menghilangkan risiko kebakaran di dalam area konsesinya.
            Untuk memulainya, APRIL Pulp bekerja sama dengan sejumlah pakar industri dan otoritas terkait untuk menentukan kawasan Stok Karbon Tinggi atau High Carbon Stocks (HCS). Sesudah itu, APRIL akan melakukan perlindungan di kawasan HCS.
            Selain itu, untuk menghilangkan risiko kebakaran, APRIL Asia tidak menoleransi praktik pembakaran lahan dan hutan di area konsesinya. Apa pun tujuannya, hal itu amat dilarang.
            Kebijakan serupa juga diterapkan kepada para mitra pemasok jangka panjang. Hal ini dilakukan supaya benar-benar tidak ada praktik pembakaran lahan dan hutan yang berisiko tinggi.
            Sebagai penunjang, APRIL membentuk sistem deteksi dini kebakaran serta membuat tim respons cepat terhadap bahaya api. Tim tersebut dibekali  dengan peralatan memadai untuk pemadaman kebakaran.

            Itulah sejumlah langkah yang diambil oleh APRIL Pulp untuk menjalankan pendekatan bentang alam di lahan gambut dalam area konsesinya. Langkah itu terbukti efektif. Hutan tanaman berkelanjutan APRIL mampu menciptakan kesempatan kerja dan menghadirkan alternatif yang berkelanjutan untuk menjaga penghidupan masyarakat lokal. Namun, pada saat yang sama, kelestarian hutan bisa terjaga. Ini sesuai dengan tujuan pendekatan bentang alam.


0 Response to "Pendekatan Bentang Alam Dilakukan APRIL Pulp Untuk Melindungi Hutan Gambut"

Posting Komentar