Penyediaan Sarana Sanitasi Oleh Royal Golden Eagle

Royal Golden Eagle


[1] 
Sanitasi merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Tanpa sanitasi yang baik, kesehatan sulit dimiliki. Atas dasar inilah Royal Golden Eagle (RGE) aktif membuat beragam sarananya untuk masyarakat.
Langkah grup yang didirikan dengan nama Raja Garuda Mas ini sangat berarti bagi rakyat Indonesia. Sebab, kondisi sanitasi di negeri kita masih buruk. Hal itu terkuak dalam Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2013 di Jakarta.
Dalam perhelatan yang diselenggarakan oleh World Bank Water Sanitation Program ini dipaparkan temuan bahwa kondisi sanitasi di Indonesia merupakan yang terburuk kedua di dunia. Fakta itu merujuk kepada data yang dipublikasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di dalamnya terdapat catatan bahwa 63 juta penduduk Indonesia tidak memiliki toilet dan masih buang air besar sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah.
Dengan kondisi seperti itu, bagaimana kesehatan bisa diperoleh? Sanitasi buruk merupakan sumber penyakit sehingga perlu diperbaiki. Namun, berselang dua tahun berikutnya, kondisi sanitasi di Indonesia masih tetap buruk. Fakta itu diungkapkan oleh Sekjen Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Taufik Widjoyono. Ia menyatakan bahwa sampai Oktober 2015, baru 60,9 persen layanan sanitasi tertangani dengan baik karena memenuhi standar dan tidak mencemari lingkungan.
"Sedangkan 39,1 persen lainnya dalam kondisi buruk atau belum tertangani dengan baik,” kata Taufik seperti dikutip dari Kompas.com.
Sebagai perusahaan yang peduli terhadap masyarakat, Royal Golden Eagle merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu. Grup korporasi dengan nama awal Raja Garuda Mas ini akhirnya sering membantu publik dengan membuatkan sarana sanitasi yang baik.
Salah satu pelakunya adalah anak perusahaan RGE yang bergerak dalam industri kelapa sawit, Asian Agri. Secara khusus, mereka membangun fasilitas sanitasi untuk warga yang membutuhkan.
Banyak contoh yang bisa dikedepankan. Salah satunya di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Dewi Murni, di Desa Dusun Ulu, Keca­matan Ujung Panda­ng, Kabupaten Simalungun. Pada Oktober 2015, Asian Agri membangun fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) di sana.
Sebelumnya PAUD Dewi Murni tidak memiliki fasilitas MCK. Sejak berdiri pada 2013, para siswa harus buang air sembarangan di sekitar kebun kelapa sawit yang ada di dekat sekolah. Namun, kondisi itu berubah setelah Asian Agri membangun toilet beserta sumber airnya. Didahului dengan memugar ruang kelas pada 2014, Asian Agri menyiapkan semua fasilitas sanitasi tersebut pada 2015.
SDN 51 Merlung di Riau juga mendapatkan dukungan serupa dari Asian Agri. Sama seperti PAUD Dewi Murni, kondisi sanitasi di sana buruk. Toilet hanya bisa digunakan oleh para guru karena keterbatasan sarana pengadaan sarana air bersih.
Ini membuat pihak sekolah mengajukan permohonan kepada Asian Agri untuk membantu. Proposal itu pun ditanggapi dengan baik oleh anak perusahaan Royal Golden Eagle tersebut.
Maka, dibuatlah fasilitas toilet yang memadai beserta dengan fasilitas air bersih yang dibutuhkan. Asian Agri menyumbang tempat penampungan air dengan kapasitas seribu liter, pompa air, pipa-pipa, hingga pembuatan sumur.
“Sekarang, lebih dari dua ratus siswa dan guru jadi memiliki akses air bersih yang mudah,” kata Kepala Sekolah SDN 51 Merlung, Walter Sitorus.
Bukan hanya sekolah yang mendapatkan dukungan fasilitas sanitasi dari Asian Agri. Desa yang membutuhkan juga mendapatkan bantuan serupa. Contohnya adalah pembangunan jamban bagi masyarakat kurang mampu di sekitar Kabupaten Batubara di Sumatera Utara.
Kegiatan yang dilakukan pada Mei 2017 ini dilakukan oleh Asian Agri dengan Koramil 04 Talawi Kabupaten Batubara. Mereka bersama-sama membangun lima buah jamban untuk warga yang memerlukan. Namun, itu bukan aksi terakhir. Asian Agri menargetkan hendak memugar sembilan jamban lagi dalam waktu dekat.

PEDULI TERHADAP MASYARAKAT
[2] 
            Asian Agri rela membangun fasilitas sanitasi untuk masyarakat yang membutuhkan karena terdorong oleh filosofi bisnis RGE. Di grup yang berdiri pada 1973 terdapat prinsip kerja yang dinamai sebagai 5C.
            Oleh semua anak perusahaan Royal Golden Eagle, filosofi bisnis 5C dijadikan sebagai arahan kerja. Isinya adalah kewajiban untuk memberi manfaat kepada perusahaan, pelanggan, masyarakat, negara, hingga lingkungan hidup dalam setiap operasional perusahaan.
            Bantuan beragam fasilitas sanitasi merupakan salah satu wujud manfaat Asian Agri kepada masyarakat. Mereka biasa melakukannya dalam payung kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR).
Terkait itu, anak perusahaan RGE ini memiliki filosofi 5C yaitu masyarakat (Community), pelanggan (Customer), iklim (Climate), negara (Country) dan perusahaan (Company).  Hal tersebut kemudian dijabarkan ke dalam kegiatan untuk menunjang berbagai sektor mulai dari pengembangan ekonomi warga, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kegiatan sosial.
Dalam segi kesehatan, Asian Agri memfokuskan terhadap dua hal, yakni fasilitas medis dan sarana sanitasi yang baik. Bekerja sama dengan Departemen Kesehatan setempat, mereka mendirikan Posyandu dan Poskedes. Hal itu dilakukan demi memastikan fasilitas kesehatan mendasar dimiliki oleh warga. Lebih hebat lagi, unit bisnis Royal Golden Eagle ini membebaskan semua biaya pengobatan.
Sementara itu, pembangunan fasilitas sanitasi yang menjadi salah satu fokus kegiatan diarahkan ke dua hal penting, yakni pengadaan air bersih dan toilet. Seperti dipaparkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, hingga 2016, masih ada jutaan penduduk Indonesia yang belum punya akses terhadap air bersih. Setidaknya terdapat 95 juta warga negeri kita yang tidak bisa mendapat air bersih.
Melihat kondisi itu, Asian Agri tergerak untuk membantu. Alhasil, mereka menjadi pembuatan fasilitas air bersih sebagai penekanan dalam kegiatan CRS yang dilakukannya.
Selain itu, ternyata masih banyak pula warga Indonesia yang tidak memiliki toilet yang memadai. Menurut catatan Kementerian Koordinatot Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, ada sekitar 120 juta warga Indonesia yang tidak punya sarana kakus yang sesuai standar kesehatan. Maka, pilihan untuk menjadikan pembuatan toilet sebagai salah satu fokus kegiatan pembenahan sanitasi Asian Agri terasa tepat.
            Head Sustainability Operation & CSR Asian Agri, Welly Pardede mengatakan, program CSR di perusahaannya dilakukan merujuk kepada enam pilar, yakni Bidang Sosial, Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur dan Lingkungan Hidup. "Perusahaan melalui program CSR berkomitmen meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitar perusahaan," ujar Welly seperti dilaporkan oleh Tribun Medan.
            Sebagai pelengkap, Asian Agri juga mengadakan kegiatan penyadaran terhadap warga tehadap arti penting sanitasi yang baik. Mereka menggagas Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang dilakukan bersama dengan Tanoto Foundation.
            Dalam program tersebut, Asian Agri ingin menanamkan kesadaran sanitasi yang baik. Anak perusahaan RGE ini menyasar sekolah-sekolah yang ada di sekitar perkebunannya di Tungkal Ulu, Tanjung Jabung Barat, Jambi.
            Wujud pelaksanaannya bermacam-macam. Salah satunya ialah kampanye cuci tangan dengan sabun yang dilakukan di SD Negeri 160/V Bukit Harapan. Di sana para siswa diajari untuk terbiasa mencuci tangannya. Sementara itu, para dilatih untuk mendukung kebiasaan hidup bersih dan sehat serta perilaku ramah lingkungan siswa. Beragam upaya ini diharapkan oleh anak perusahaan Royal Golden Eagle tersebut akan memperbaiki kondisi sanitasi di Indonesia yang buruk.

0 Response to "Penyediaan Sarana Sanitasi Oleh Royal Golden Eagle"

Posting Komentar